Buntut salah cetak bendera Indonesia terbalik memperkeruh suasana
Berawal dari Sea Games, perseteruan semakin mengeruh dan tiada akhir
Berturut-turut indonesia diterjang cobaan ketika berlaga di SEA GAMES 2017, mulai dari insiden bendera salah cetak, pembukaan yang memakai lagu rasa sayange, tragedi wo sepak takraw putri, kartu kuning Evan dimas, sampai di kartu merahnya pemain Shaolin soccer
(di wikipedia tadinya pemain Shaolin Soccer, tap sekarang sudah normal kembali), yang secara personal saya sebut sebagai kungfu master, karena perilakunya yang tidak mencerminkan kedisiplinan ketika bermain sepakbola, sampai Irfan Bachdim pun dibuatnya geram.
Tetap, yang paling menyulut amarah netizen adalah salah cetaknya bendera Indonesia, tidak tanggung-tanggung bukan hanya 1 halaman, tapi 2 halaman dalam satu buku. tidak fokus? atau memang belum minum aqua? Entahlah, yang pasti aneh saja sudah bertetangga berpuluh tahun, tapi bendera tetangga pun sampai lupa, padahal hanya 2 warna, merah dan putih. Membuat kebanyakan orang geleng-geleng kepala dengan 'kesilapan' yang dilakukan penyelenggara.
Beberapa waktu lalu dengan respon cepat, pemerintah Malaysia sudah mengadakan pertemuan dengan Kemenpora dan meminta maaf secara langsung dan juga kepada seluruh Warga Negara Indonesia atas kesalahan yang diperbuat.
Apakah permintaan maaf secara tersurat dan resmi sudah bisa diterima oleh Rakyat Indonesia? Ada, namun kebanyakan masih merasa kesal dan dongkol dengan perilaku malaysia kepada Indonesia, sampai beberapa website Malaysia diserang hacker dan mengganti tampilan depan dengan Penegasan bahwa bendera Indonesia itu Merah Putih bukan Putih Merah.
Berseliweran di Sosial media aksi terhadap perilaku 'Malaysia' kepada Indonesia, diantaranya ada yang konvoi menggunakan mobil dan memasang bendera Malaysia dengan terbalik, sampai aksi anarkis membakar Bendera Malaysia, yang menurut saya ini tidak patut untuk dilakukan , sekalipun sakit hati, tidak seharusnya membalas perlakuan mereka dengan melecehkan, kalau begitu, apa bedanya kita dengan mereka?
Sampai surat terbuka dari anak smp kepada Perdana Mentri Malaysia dengan kata-kata yang menurut saya lembut dan santun, tapi sangat menusuk di kedua sisi.
Wajar menurut saya bila rakyat Indonesia merasa sangat marah dengan insiden salah cetak kemarin, karena Bangsa Indonesia sendiri sudah lelah dulu dijajah oleh Belanda selama beratus-ratus tahun,yang dimana rakyat Indonesia dulu selalu dianggap remeh oleh bangsa penjajah itu, sampai mereka menyebut Tuan sah pemilik tanah dengan sebutan 'Inlander', bermakna ejekan bagi penduduk asli di Indonesia oleh orang belanda pada masa penjajahan dulu.
Ditambah lagi penjajahan jepang yang mengaku-ngaku sebagai saudara, padahal lebih busuk dari musuh , juga diteruskan dengan dua kali agresi militer belanda. jadi menurut saya wajar saja Bangsa Indonesia akan sangat marah bila menyangkut dengan Bendera dan simbol negara, karena kita tahu untuk mendapatkan semua itu tidak mudah dan harus mengorbankan darah para pahlawan.
Dari dulu pun kita sudah mengenal istilah "Ganyang Malysia." Yang pertama dicetuskan oleh Ir. Soekarno yang kala itu berpidato dengan semangat yang membara, dan juga masalah perbatasan yang sampai kini masih menjadi perdebatan diantara kedua belah pihak.
Jadi sebijaknya sebagai bangsa yang beradab kita bisa lebih berfikir secara dingin dan memikirkan jangka panjang atas perbuatan yang kita lakukan sekarang, jangan karena emosi, kita malah memperberuk suasana dan membuat semuanya semakin runyam dan tak terkendali.
Jika banyak yang berkata Malaysia 'melunjak' karena kita terlalu diam dan baik, diam belum tentu lemah bung, kita diam karena kita dewasa dan kita mengerti dampak apa yang akan muncul jika gegabah, kita berperan seperti singa saja, singa akan diam jika tidak diganggu, namun jika diganggu, jangankan tindakan aumannya pun sudah membuat nyali menciut.
Jadi saya tegaskan sekali lagi
![]() |
| Dok. Twitter Imam Nahrawi |
Berturut-turut indonesia diterjang cobaan ketika berlaga di SEA GAMES 2017, mulai dari insiden bendera salah cetak, pembukaan yang memakai lagu rasa sayange, tragedi wo sepak takraw putri, kartu kuning Evan dimas, sampai di kartu merahnya pemain Shaolin soccer
![]() |
| Sebelum disunting |
![]() |
| Setelah disunting kembali |
Timor Leste number 4 should not even be allowed to play football! DISGRACE!!— Irfan Bachdim (@IrfanBachdim10) 20 Agustus 2017
Tetap, yang paling menyulut amarah netizen adalah salah cetaknya bendera Indonesia, tidak tanggung-tanggung bukan hanya 1 halaman, tapi 2 halaman dalam satu buku. tidak fokus? atau memang belum minum aqua? Entahlah, yang pasti aneh saja sudah bertetangga berpuluh tahun, tapi bendera tetangga pun sampai lupa, padahal hanya 2 warna, merah dan putih. Membuat kebanyakan orang geleng-geleng kepala dengan 'kesilapan' yang dilakukan penyelenggara.
Beberapa waktu lalu dengan respon cepat, pemerintah Malaysia sudah mengadakan pertemuan dengan Kemenpora dan meminta maaf secara langsung dan juga kepada seluruh Warga Negara Indonesia atas kesalahan yang diperbuat.
Apakah permintaan maaf secara tersurat dan resmi sudah bisa diterima oleh Rakyat Indonesia? Ada, namun kebanyakan masih merasa kesal dan dongkol dengan perilaku malaysia kepada Indonesia, sampai beberapa website Malaysia diserang hacker dan mengganti tampilan depan dengan Penegasan bahwa bendera Indonesia itu Merah Putih bukan Putih Merah.
Berseliweran di Sosial media aksi terhadap perilaku 'Malaysia' kepada Indonesia, diantaranya ada yang konvoi menggunakan mobil dan memasang bendera Malaysia dengan terbalik, sampai aksi anarkis membakar Bendera Malaysia, yang menurut saya ini tidak patut untuk dilakukan , sekalipun sakit hati, tidak seharusnya membalas perlakuan mereka dengan melecehkan, kalau begitu, apa bedanya kita dengan mereka?
Sampai surat terbuka dari anak smp kepada Perdana Mentri Malaysia dengan kata-kata yang menurut saya lembut dan santun, tapi sangat menusuk di kedua sisi.
Wajar menurut saya bila rakyat Indonesia merasa sangat marah dengan insiden salah cetak kemarin, karena Bangsa Indonesia sendiri sudah lelah dulu dijajah oleh Belanda selama beratus-ratus tahun,yang dimana rakyat Indonesia dulu selalu dianggap remeh oleh bangsa penjajah itu, sampai mereka menyebut Tuan sah pemilik tanah dengan sebutan 'Inlander', bermakna ejekan bagi penduduk asli di Indonesia oleh orang belanda pada masa penjajahan dulu.
Jika kita bisa analogikan negara sebagai rumah dan penduduk asli sebagai pemilik sah, maka bagaimana perasaannya jika suatu hari kita kedatangan tamu, yang awalnya baik namun lantas dengan sombong mengklaim bahwa itu rumahnya dan malah memandang kita sebagai rendahan, apakah tidak akan marah, jika diperlakukan seperti itu? Pasti akan marah dan kemarahan itu berbentuk perjuangan yang akhirnya berbuah kemerdekaan.
Dari dulu pun kita sudah mengenal istilah "Ganyang Malysia." Yang pertama dicetuskan oleh Ir. Soekarno yang kala itu berpidato dengan semangat yang membara, dan juga masalah perbatasan yang sampai kini masih menjadi perdebatan diantara kedua belah pihak.
Jadi sebijaknya sebagai bangsa yang beradab kita bisa lebih berfikir secara dingin dan memikirkan jangka panjang atas perbuatan yang kita lakukan sekarang, jangan karena emosi, kita malah memperberuk suasana dan membuat semuanya semakin runyam dan tak terkendali.
Jika banyak yang berkata Malaysia 'melunjak' karena kita terlalu diam dan baik, diam belum tentu lemah bung, kita diam karena kita dewasa dan kita mengerti dampak apa yang akan muncul jika gegabah, kita berperan seperti singa saja, singa akan diam jika tidak diganggu, namun jika diganggu, jangankan tindakan aumannya pun sudah membuat nyali menciut.
Jadi saya tegaskan sekali lagi
"Diam bukan berarti lemah dan takut, diam adalah representasi dari kedewasaan."



Komentar
Posting Komentar